Sepenggal Cerita Masyarakat Sosial

Minggu, 23 Juli 2017

Surga Dunia Diantara Pemukiman Kumuh

Ilustrasi
Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin begitu jauh. Di sebuah pemukiman kumuh yang berlokasi di ibukota suatu Negara hidup 2 orang pemuda bernama Yoyok dan Andy. Kehidupan mereka berdua berbeda sangat jauh, Yoyok yang tinggal di pemukiman kumuh setiap harinya bekerja sebagai kuli pasar demi mendapatkan uang untuk mengisi perutnya.

Beban seberan puluhan kilogram sudah biasa dia angkat, dia berangkat ke pasar mulai bagi buta ketika sang surya belum menampakkan wujud keindahannya. Kala itu hari minggu pukul 03.00 WIB, pasar sudah ramai dengan kerumunan pedangan dan pembeli. Rata-rata pembeli yang datang saat itu juga merupakan pedagang, mulai dari pedagang sayur keliling maupun mereka yang ingin berbelanja untuk stok barang di toko.

Yoyok biasa mengangkut puluhan karung berisi berbagai barang kebutuhan seperti beras, kelapa, gula, sayuran,buah-buahan dan lainnya. Upahnya pun juga tak terlalu besar, dia biasanya mendapatkan uang 5 ribu hingga 10 ribu rupiah untuk setiap karung yang ia angkut. Meskipun bekerja sebagai kuli pasar, namun Yoyok tetap semangat dan ikhlas dalam menjalani pekerjaanya. Dia sadar bahwa lebih baik bersusah payah demi mendapatkan rejeki yang halal daripada harus mencuri maupun mencopet.

Yoyok bukanlah satu-satunya kuli pasar, ada sekita 10 orang yang bekerja sebagai kuli. Saat istirahat mereka biasa berkumpul di sebuah warung untuk sekadar minum kopi, makan dan berbincang-bincang. Meskipun sebagai kuli dia selalu mensyukuri hidupnya., Yoyok juga punya sebuah impian, dia ingin memberangkatka kedua orangtuanya untuk menuju tanah suci, menunaikan salah satu rukun islam.

Sementara Andy adalah seorang manajer di sebuah perusahaan swasta yang cukup terkenal. Dia bertempat tinggal di sebuah apartemen mewah yang lokasinya tak jauh dari pemukiman kumuh dimana tempat Yoyok tinggal. Kehidupannya penuh dengan senang-senang dan berfoya-foya, harta yang dia miliki membuatnya lupa bahwa itu hanyalah titipan dari sang kuasa.

Dia sering pergi ketempat hiburan malam, minum-minum bahkan kecanduan obat-obatan. Sampai suatu ketika perusahaannya mengalami kebangkrutan dan apartemen miliknya terpaksa dijual. Kini dia hidup sebagai gelandangan yang hanya mampu mengemis di pinggir jalan, mengharap belas kasihan dari orang yang melintas dan berharap mereka memberi sedikit uang ataupun makanan.

Kekayaan dan popularitas bukanlah sebuah jaminan kebahagiaan. Semua yang kita miliki saat ini hanyalah titipan, jangan pernah bersombong diri. Syukurilah setiap apa yang diberikan tuhan kepada kita, dan berbagilah kepada orang-orang yang membutuhkan.