Sepenggal Cerita Masyarakat Sosial

Minggu, 23 Juli 2017

Senyum Manismu Ternyata Hanya Tipuan Belaka

Ilustrasi
Sore itu aku pulang kerja, keluar dari kantorku aku langsung melakukan hal seperti biasanya, yakni menjemputmu. Jarak antara kantorku dengan tempat dia bekerja tidaklah terlalu jauh. Sekitar 3 km, aku masuk ke mobil dan bergegas menuju kantormu. Sampai disana aku menunggu sekitar 10 menit sebelum dia keluar. Senyum manisnya langsung menyambutku ketika dia berjalan menuju arahku. Ucapan sapanya kala itu terasa menyejukkan hati.

Aku dan dia bergegas masuk ke mobil dan pulang, dalam perjalanan, obrolan ringan dengannya membuat suasana menjadi menyenangkan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah puisi yang paling indah bagiku. Dalam perjalanan perutku mulai berbunyi, meronta-ronta minta diisi. Kuputuskan untuk mampir ke sebuah restoran yang tak terlalu mewah namun juga cukup bagus dengan harga yang aku pikir cukup bersahabat dengan isi dompetku. Pengeluaranku bulan ini terlalu banyak, aku harus pintar-pintar mengelolanya.

Kami berdua makan sambil menikmati indahnya suasana sore hari. Entah mengapa setiap kali aku memandang matanya, seolah-olah aku terhipnotis. Seperti tak ada wanita lain yang lebih indah dari dia. Aku sangat bersyukur bisa memilikinya. Selesai makan kuantarkan dia pulang, dan sesampainya dirumah aku langsung mandi dan beristirahat, melepas penat dan rasa lelah karena seharian bekerja.

Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, bahkan sampai lembur demi menyelesaikan tugas kantor. Perhatianku padanya juga sedikit berkurang dan tersita oleh kesibukanku. Satu bulan telah berlalu, aku merasa akhir-akhir ini dia seperti menjauh dari diriku. Setiap kali aku telepon dia selalu sibuk, ketika aku ingin mengantarnya pulang dia selalu menolak dengan alasan yang aku rasa tidak masuk akal.

Aku mulai penasaran, sebenarya ada apa dengan dia? apakah dia sudah bosan denganku? apakah dia sudah tak cinta lagi denganku? apa yang salah dengan diriku?. Aku harus mencari jalan untuk menyelesaikan semua masalah ini. Akhirnya aku putuskan untuk mengatur waktu bertemu dengannya di sebuah Cafe dekat kantornya. Aku berusaha menanyakan padanya ada apa sebenaranya.

Namun dia hanya mengelak, rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Namun karena aku banyak bertanya padanya, pertengkaran pun terjadi. Aku rasa ada yang tidak beres, keesokan harinya aku berencana untuk memata-matainya ketika pulang dari kerja. Setelah pulang kerja aku langsung menuju kantornya dan mobilku berhenti dibawah pohon dekat dengan gerbang kantornya.

Beberapa menit berlalu, didepanku ada sebuah mobil yang berhenti. Sepertinya aku pernah melihat mobil ini, dan tak asing bagiku. 2 menit kemudian dia yang menjadi tempat hatiku berlabuh menghampiri mobil tadi. Betapa terkejutnya aku, ternyata dia adalah temanku. Dan aku melihatnya menggandeng pujaan hatiku dengan mesra.

Semenjak saat itu aku tak pernah lagi berhubungan dengan dia. Selain karena hatiku yang tergores, juga kesibukan kerjaku yang semakin bertambah. Aku lebih fokus untuk bekerja dan mempersiapkan masa depanku.