Sepenggal Cerita Masyarakat Sosial

Sabtu, 22 Juli 2017

Bertemu dengan Seorang Bidadari yang Memikat Hatiku

Ilustrasi
Kala itu aku masih duduk dibawah pohon mangga. Mati kutu karena bingung mau bebuat apa, sebab aku hanyalah satu dari sekian orang yang berangkat untuk mencari sesuatu. Ya, sesuatu yang mereka sebut sebagai jalan untuk meraih masa depan. Masa depan yang lebih baik katanya, namun bagiku itu bukanlah satu-satunya jalan terbaik. 

Aku hanya kenal dengan orang yang bisa dihitung jumlahnya, ini adalah dunia baru yang asing bagiku. Tapi, apapun alasannya aku harus bisa menyatu dengan mereka. Karena, merekalah yang nanti menemaniku untuk berjuang dan berjalan bersama. Wajah-wajah polos terlihat pada diri mereka, seperti orang yang tersesat ditengah hutan dan ingin mencari jalan keluar. 

Terlalu asik dengan semilir angin yang berhembus dibawah pohon membuatku terlena. Hingga aku tersadar, ada sosok makhluk ciptaan tuhan yang lain dari biasanya. Dia seolah-olah memancarkan cahaya yang begitu terang di kegelapan, mengalahkan sinar lain. Semakin aku pandangi, perasaanku semakin gelisah. 

Mungkinkah hati dan jiwaku telah terbawa suasana, dan dia mengambil alih. Ah, sial sepertinya dugaanku memang benar. Aku telah dihipnotis oleh sesosok makhluk Tuhan yang keindahannya seperti bidadari. Jika disuruh memilih kata untuk mengungkapkan keindahannya aku rasa tak akan ada. Sial, semakin kupandangi semakin hatiku bertanya-tanya, "Siapakah dia?".

Aku sudah tak tahan menahan gejolak dalam pikiran, hatiku memaksa otak untuk berpikir keras. Otakku juga tak kuasa, mulutku pun akhirnya mengeluarkan sebuah kalimat. "Siapa gadis itu?". Akupun beranjak dari tempatku dan menghampiri sahabat karibku yang berdiri di samping kuda besi yang singgah. "Apakah kamu kenal dengan gadis itu?", sepenggal kalimat tanya ku lontarkan sembari jemariku menunjuk sang bidadari.

"Kenapa kau tanya padaku, kau tahu aku juga orang baru disini, hampiri dan tanyakan namanya!", sahabatku menantangku untuk menghampirinya. Namun, aku bukanlah lelaki yang  pemberani jika sudah berhadapan dengan wanita. Apalagi ada suatu rasa dalam hatiku yang membuatku semakin ciut nyali. Semenjak duduk di bangku sekolah, tercatat hanya sekali aku mengungkapkan perasaan kepada wanita. Jika dibanding teman-temanku, jelas kalah telak!

Kuputuskan tak menghampiri gadis yang mencuri perhatianku itu. Namun diam-diam aku tetap berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya bidadari yang turun itu, dan mengapa mataku dipaksa untuk memandangi sosok makhluk yang indah?. Sepulang dari tempat itu, aku istirahat sejenak sembari mengambil gawai yang ada di atas meja. 

Aku lihat ada pesan pemberitahuan dari grup. Ternyata cuma kalimat yang tak penting tertulis disitu. Seketika akupun teringan gadis tadi, dan otakku tiba-tiba mengeluarkan sebuah ide. "Mengapa tidak aku cek saja di daftar nama anggota grup?", langsung saja jemariku meronta menyusuri aplikasi dan memilih menu anggota grup. Aku gulung layarku kebawah, disitu terlihat gambar orang-orang yang asing bagiku.

"Akhirnya!", aku menemukan foto sosok gadis tadi. "Gila!", dia memang terlihat cantik, bukan sekedar cantik karena dipaksa, dia cantik alami dan kini aku tahu siap namanya. Nama yang indah sesuai dengan dirinya. Semenjak saat itu aku menjadi mata-mata, setiap kali bertemu dengannya aku memang tak berani untuk menyapa.

Setengah tahun berlalu aku jarang melihat dia lagi, karena aku dan dia dipisahkan oleh sebuah sistem sekat. Ibarat rumah, kita berbeda kamar, namun masih serumah. Meskipun begitu, aku masih bisa memantau dia melalui gawai. Setiap kali fotonya berganti, aku tidak pernah ketinggalan untuk selalu mengeceknya.

Dan semenjak saat itu aku hanya menjadi seorang yang  hanya mampu melihatnya. Sebenarnya dalam hatiku tak ingin seperti ini, andai saja aku bisa berbicara dengan dia meskipun sepatah kata, aku akan sangat bahagia.