Sepenggal Cerita Masyarakat Sosial

Sabtu, 22 Juli 2017

Aku Belajar Belajar dari Setiap Bungkus Nasi

Ilustrasi
Siang itu Adit berjalan diatas aspal yang hitam dan panas. Panas tak sekadar menyengat kaki yang tanpa alas, namun kepalanya juga terbakar oleh panasnya mentari. Sembari berkeliling menjajakan makanan, sesekali dia berhenti untuk istirahat sejenak. Melihat kanan dan kiri berharap ada orang yang peduli dan mau untuk membeli jajanan yang dia jajakan. Keranjangnya hanya berisi bungkusan nasi dan gorengan. Sedih memang jika melihat anak usia 8 tahun harus membanting tulang demi memutar uang untuk makan sehari-hari.

Ayahnya sudah dipanggil Tuhan semenjak usianya masih 2 tahun, sementara ibunya sakit-sakitan dan tak mampu berjalan. Adit adalah anak tunggal, hidup di ibukota memang susah. Ketika teman-temannya pergi bersekolah, dia hanya mampu melihat dan berangan-angan. Sebuah mimpi bocah 8 tahun yang ingin mengenyam pendidikan dan menjadi orang yang sukses. Namun itu hanya sebatas angan, dan terkadang hatinya menangis lirih meratapi hidupnya.

Meskipun demikian, semangat untuk terus hidup tak pernah pudar. Otaknya juga tak kehabisan akal untuk bisa belajar, meskipun tidak bisa mengenyam pendidikan. Setiap kali berjualan nasi bungkus, dia memperhatikan bungkusnya. Sebab lembaran kertas koran dan buku sekolah terkadang dipakai untuk membungkus nasi. Dia berusaha membaca dan memahami setiap kata yang tertulis. Meskipun terkadang susah untuk dipahami dan masuk ke otak. 

Selama 5 tahun dia habiskan hidupnya dijalan, menyusuri sudut-sudut kota dan pernak-pernik kehidupan jalanan. Hampir seluruh jalan dia ingat, dan kini usianya sudah 13 tahun. Dia masih belum mampu untuk bersekolah. Namun soal pengetahuan jangan ditanya, bahkan dia memiliki pengetahuan yang lebih  dari anak seusianya yang bersekolah, semua gara-gara nasi bungkus. Minat dan semangatnya untuk membaca jarang dimiliki anak seusianya.

Dia juga sering menulis kisah hidupnya dalam sebuah buku usang yang ia miliki. Segala keluh kesah dan cerita hidupnya ia tuangkan disana. Hingga tak terasa buku yang tebalnya hanya 100 halaman itu kini mulai penuh dengan cerita jalanan yang dia alami. Sudah saatnya dia membeli buku baru, namun uang hasil jualan hari ini hanya cukup untuk makan 2 kali.

Terpaksa dia hanya makan sekali hari ini, sisanya dia belikan buku. Suatu ketika dia bertemu dengan seorang laki-laki yang bertubuh gagah dan mengunakan seragam. Rupanya laki-laki itu sedang susah hati karena kehilangan sebuah dompet yang berisi sejumlah uang, kartu identitas dan kartu berharga lainnya. "Bapak kenapa? sepertinya terlihat susah", tanya adit. "Dompetku hilang, aku bingung mencarinya tidak ketemu", jawab orang tadi. (bersambung...)